Tahun 2008 yang lalu Kalyana Shira Foundation meluncurkan Project Change!, sebuah sarana pengembangan film dokumenter yang mengundang filmmaker Indonesia untuk mengikuti workshop master class film dengan tema Kesehatan Reproduksi Perempuan.
24 filmmaker dari 12 kota di Indonesia datang untuk menghadiri workshop selama 3 hari di Jakarta dengan pemateri yang berpengalaman dalam bidangnya. Pada akhir
workshop setiap peserta mempresentasikan ide film dokumenternya, dan setelah melalui proses seleksi 8 orang finalis diundang untuk melakukan production pitching
hasilnya 4 orang sutradara Ucu Agustin, Lucky Kuswandi,
Iwan Setiawan, dan Ani Ema Susanti dan script mereka siap diproduksi dengan fasilitasi dari Kalyana Shira Foundation dan Kalyana Shira Film.
Karya kolektif mereka dirangkai dalam film
antologi ‘Pertaruhan’ yang ditayangkan perdana di JiFfest 2008, dan diputarkan
untuk publik tanggal 16 Januari 2009 di jaring bioskop Blitz Megaplex di
Jakarta dan Bandung.
Film Pertaruhan juga ditayangkan di festival film international Berlinale 2009, Hong Kong International Film Festival 2009, Bangkok International Film Festival 2009,
Kampus di dalam dan luar negeri dan pemutaran dalam roadshow di Bogor, Cirebon,
Yogyakarta, Malang, Batam, Lampung, Bengkulu, Denpasar, dan akan menyusul ke
kota-kota Jambi, Pontianak, Aceh, dan Makassar.
Kini, Kami mengundang anda untuk mengikuti
master class workshop Project Change! 2009 yang akan diadakan di Sukabumi pada
tanggal 28-31 Oktober 2009 dengan tema utama Perempuan dan Kemiskinan. Seperti
tahun sebelumnya workshop akan dilanjutkan dengan presentasi ide cerita,
seleksi finalis, production pitching untuk para finalis, dan produksi film
untuk ide cerita terpilih.
Berikut adalah persyaratan peserta masterclass
workshop Project Change! 2009
1. Sudah pernah membuat film fiksi
atau dokumenter pendek.
2. Karya anda sudah pernah
ditayangkan di festival film lokal, nasional, atau internasional.
3. Mengisi formulir dan mengirimkan karya tersebut
ke Kalyana Shira Foundation,
dan menyertakan semua lampiran yang disebutkan
pada formulir pendaftaran. Formulir, foto, dan daftar karya
bisa dikirimkan melalui email.
Copy karya dikirimkan melalui pos ke alamat
Kalyana Shira Foundation Jl. Bunga Mawar no. 9, Cipete Selatan, Jakarta 12730.
Deadline penerimaan materi tanggal 14 Oktober 2009.
4. Dapat menghadiri workshop pada
tanggal 28 - 31 Oktober 2009.
Kami tunggu karya-karya anda, dan kehadiran anda di Workshop Master
Class Project Change! 2009.
Salam,
Vivian Idris-
Koordinator Master Class
Workshop Project Change! 2009
=====================================================================================
UNTUK MENGUNDUH FORMULIR PENDAFTARAN WORKSHOP MASTER CLASS PROJECT CHANGE! 2009 SILAHKAN KLIK LINK DI BAWAH INI:
Formulir Workshop PC! 2009.doc
Forum Film MMTC
Jumat, Oktober 02, 2009
Sabtu, September 19, 2009
Selamat Idul Fitri
Idul Fitri layaknya Produksi Film yang memiliki beberapa tahapan yaitu:
Pra Produksi, adalah masa dimana kita berpuasa mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan.
Produksi, adalah tahapan untuk menyambut Idul Fitri dengan memproduksi permintaan maaf serta membuka pintu maaf selebar - lebarnya.
Pasca Produksi, adalah masa dimana kita mengolah serta menjaga hasil atas apa yang kita lakukan satu bulan ini dengan membawa semangat serta damai ramadhan sampai kapanpun.
Akhir kata Kami segenap keluarga besar Forum Film MMTC Yogyakarta mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H.
Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Salam Karya!
Yulius Pramana Jati dan kawan-kawan
Forum Film MMTC Yogyakarta
Pra Produksi, adalah masa dimana kita berpuasa mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan.
Produksi, adalah tahapan untuk menyambut Idul Fitri dengan memproduksi permintaan maaf serta membuka pintu maaf selebar - lebarnya.
Pasca Produksi, adalah masa dimana kita mengolah serta menjaga hasil atas apa yang kita lakukan satu bulan ini dengan membawa semangat serta damai ramadhan sampai kapanpun.
Akhir kata Kami segenap keluarga besar Forum Film MMTC Yogyakarta mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H.
Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Salam Karya!
Yulius Pramana Jati dan kawan-kawan
Forum Film MMTC Yogyakarta
Label:
ucapan istimewa
Kamis, September 10, 2009
South Of The Border
Oleh : RUDI HARTONO
Pada tanggal 8 september 2009, presiden Chaves menghadiri festival film Venice 2009, sebuah festival film tahunan yang melibatkan banyak sutradara dan industri film dari berbagai negara. Dalam acara itu, presiden Chaves berjalan di karpet merah dengan temani oleh sutradara Oliver Stone, sang pembuat film “South of the Border”.
Meskipun bukan di negaranya, tapi presiden Chaves mendapat sambutan cukup luas dari pengagumnya di Italia. Beberapa orang meneriakkan kata ;”presiden, presiden”, dan ada pula yang membawa bendera Venezuela, dan sebuah spanduk berbahasa spanyol “selamat datang, presiden”.
Dalam acara itu, Chaves memuji Stone sebagai sutradara yang baik, dan telah mengabarkan proses perbaikan dan kemajuan di Amerika latin.
“kelahiran kembali sedang terjadi di Amerika latin, dan Stone pergi untuk mencari itu dan menemukan hal itu,” kata Chaves. “Dengan kamera dan kejeniusannya, dia berhasil menangkap kelahiran kembali ini”.
Menurut Oliver Stone, film “south of the border” menggambarkan mengenai perubahan yang menyapu Amerika selatan dalam beberapa tahun terakhir, dan sebagai penentangan terhadap penggambaran Chaves sebagai diktator oleh media mainstream di AS dan eropa.
Dalam pembuatan film ini, Stone menghabiskan waktu 75 menit dengan Chavez untuk sebuah film documenter. Disamping itu, dia juga mewancarai sejumlah pemimpin dari negara amerika latin lainnya seperti Brazil, Bolivia, Argentina, Kuba, Ekuador, dan Paraguay. Para pemimpin itu, menurut Stone, berada pada halaman yang sama dengan Chavez.
Stone mengatakan, dia ingin menggambarkan perubahan yang menempatkan sejumlah pemimpin di Amerika latin, yang kekuasaannya mewakili kepentingan mayoritas rakyat di kawasan ini. menurutnya, para pemimpin ini benar-benar punya cita-cita sejati untuk membebaskan rakyatnya dari kemiskinan.
Dia berkali-kali mengutip presiden Evo Morales, orang Indian pertama yang terpilih menjadi presiden, dan presiden Luiz InĂ¡cio Lula da Silva, yang juga dikenal sebagai mantan pemimpin serikat buruh.
“ jika anda perhatikan sekarang, ada tujuh presiden, ada delapan negara dengan Chile, yang benar-benar bergerak menjauh dari Washington consensus,” kata Stone. “tapi amerika tidak pernah mendapat cerita itu.”
Stone diundang pertama kali ke Venezuela, untuk menemui presiden Chavez, ketika ada misi penyelamatan sandera Kolombia oleh gerilyawan FARC, namun acara itu dibatalkan. Ketika bertemu Chaves, dia merasakan bahwa sosok Chaves sangat berbeda dengan penggambaran media AS.
Stone memang terkenal dengan dramanya, selain itu juga pernah menyelesaikan empat film documenter, termasuk Commandanter, sebuah documenter yang diambil berdasarkan pertemuannya dengan Fidel Castro pada tahun 2003.
Ketika mengambil gambar presiden Chavez, Stone menangkap kesederhanaan, ketulusan, dan kebaikan presiden ini. Ini sangat berbeda dengan gambaran media barat yang menganggap Chaves diktator.
“yang saya suka dari film ini adalah soal bagaimana ketulusan dia (presiden Chaves, pen) di depan kamera. Anda tidak melihat seorang pria yang palsu. Dia bukan seorang diktator,” kata Stone.
Iya, presiden Chaves memang seorang yang sangat tulus, begitu mencintai rakyatnya, sehingga ia bisa memperlihatkan ketululusan perjuangannya di depan media. Ini sangat berbeda dengan presiden neoliberal di Indonesia, presiden SBY, yang isi pidato dan mimik mukanya direkonstruksi oleh bos-bos media dan pakar telekomunikasi di belakang layar.
Selama menghabiskan waktu bersama Chavez, Stone menyaksikan Chaves dielu-elukan rakyatnya, mengunjungi daerah pertanian, dan sebagainya. bahkan, dia bersama Chaves mendatangi rumah masa kecil sang presiden, dimana Chaves menaiki sebuah sepeda kecil untuk bermain-main.
Selain itu, dalam film ini, anda akan melihat bagaimana Evo Morales menendang bola bersama presiden progressif amerika latin lainnya, tanpa dibuat-buat. Semuanya berjalan secara alami.
Dengan pengalamannya secara langsung ini, Stone pun menuding kritikan para oposisi terhadap presiden Chavez adalah palsu. Menurut oposisi, Chaves sedang mengarah kepada sebuah otoritarianisme, yang dibuktikan dengan pencekalan terhadap oposisi dan tekanan terhadap media swasta. Disamping itu, oposisi menuding Chaves terlalu sibuk mengobarkan perang salib global untuk melawan dominasi AS, namun kemudian melupakan persoalan di dalam negeri, khususnya korupsi yang merajalela.
Menurut Stone, Oposisi berupaya menutupi segala bentuk kemajuan dan perbaikan di bawah Chaves. "Orang-orang itu lupa bahwa dia telah memotong kemiskinan hingga satu setengah,” ujarnya. “orang-orang di Venezuela dapat menikmati akses pendidikan secara gratis, mereka benar-benar mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik tanpa mengeluarkan biaya, dan dimajukan kesejahteraannya,” kata Stone.
Akhirnya, film “south of the border” mendapatkan penghargaan Golden Lion dalam festival film Venice 2009, dan mendapatkan apresiasi luar biasa dari begitu banyak penonton, sutradara, dan pemerhati film.
*) Diolah dari berbagai sumber
Pada tanggal 8 september 2009, presiden Chaves menghadiri festival film Venice 2009, sebuah festival film tahunan yang melibatkan banyak sutradara dan industri film dari berbagai negara. Dalam acara itu, presiden Chaves berjalan di karpet merah dengan temani oleh sutradara Oliver Stone, sang pembuat film “South of the Border”.
Meskipun bukan di negaranya, tapi presiden Chaves mendapat sambutan cukup luas dari pengagumnya di Italia. Beberapa orang meneriakkan kata ;”presiden, presiden”, dan ada pula yang membawa bendera Venezuela, dan sebuah spanduk berbahasa spanyol “selamat datang, presiden”.
Dalam acara itu, Chaves memuji Stone sebagai sutradara yang baik, dan telah mengabarkan proses perbaikan dan kemajuan di Amerika latin.
“kelahiran kembali sedang terjadi di Amerika latin, dan Stone pergi untuk mencari itu dan menemukan hal itu,” kata Chaves. “Dengan kamera dan kejeniusannya, dia berhasil menangkap kelahiran kembali ini”.
Menurut Oliver Stone, film “south of the border” menggambarkan mengenai perubahan yang menyapu Amerika selatan dalam beberapa tahun terakhir, dan sebagai penentangan terhadap penggambaran Chaves sebagai diktator oleh media mainstream di AS dan eropa.
Dalam pembuatan film ini, Stone menghabiskan waktu 75 menit dengan Chavez untuk sebuah film documenter. Disamping itu, dia juga mewancarai sejumlah pemimpin dari negara amerika latin lainnya seperti Brazil, Bolivia, Argentina, Kuba, Ekuador, dan Paraguay. Para pemimpin itu, menurut Stone, berada pada halaman yang sama dengan Chavez.
Stone mengatakan, dia ingin menggambarkan perubahan yang menempatkan sejumlah pemimpin di Amerika latin, yang kekuasaannya mewakili kepentingan mayoritas rakyat di kawasan ini. menurutnya, para pemimpin ini benar-benar punya cita-cita sejati untuk membebaskan rakyatnya dari kemiskinan.
Dia berkali-kali mengutip presiden Evo Morales, orang Indian pertama yang terpilih menjadi presiden, dan presiden Luiz InĂ¡cio Lula da Silva, yang juga dikenal sebagai mantan pemimpin serikat buruh.
“ jika anda perhatikan sekarang, ada tujuh presiden, ada delapan negara dengan Chile, yang benar-benar bergerak menjauh dari Washington consensus,” kata Stone. “tapi amerika tidak pernah mendapat cerita itu.”
Stone diundang pertama kali ke Venezuela, untuk menemui presiden Chavez, ketika ada misi penyelamatan sandera Kolombia oleh gerilyawan FARC, namun acara itu dibatalkan. Ketika bertemu Chaves, dia merasakan bahwa sosok Chaves sangat berbeda dengan penggambaran media AS.
Stone memang terkenal dengan dramanya, selain itu juga pernah menyelesaikan empat film documenter, termasuk Commandanter, sebuah documenter yang diambil berdasarkan pertemuannya dengan Fidel Castro pada tahun 2003.
Ketika mengambil gambar presiden Chavez, Stone menangkap kesederhanaan, ketulusan, dan kebaikan presiden ini. Ini sangat berbeda dengan gambaran media barat yang menganggap Chaves diktator.
“yang saya suka dari film ini adalah soal bagaimana ketulusan dia (presiden Chaves, pen) di depan kamera. Anda tidak melihat seorang pria yang palsu. Dia bukan seorang diktator,” kata Stone.
Iya, presiden Chaves memang seorang yang sangat tulus, begitu mencintai rakyatnya, sehingga ia bisa memperlihatkan ketululusan perjuangannya di depan media. Ini sangat berbeda dengan presiden neoliberal di Indonesia, presiden SBY, yang isi pidato dan mimik mukanya direkonstruksi oleh bos-bos media dan pakar telekomunikasi di belakang layar.
Selama menghabiskan waktu bersama Chavez, Stone menyaksikan Chaves dielu-elukan rakyatnya, mengunjungi daerah pertanian, dan sebagainya. bahkan, dia bersama Chaves mendatangi rumah masa kecil sang presiden, dimana Chaves menaiki sebuah sepeda kecil untuk bermain-main.
Selain itu, dalam film ini, anda akan melihat bagaimana Evo Morales menendang bola bersama presiden progressif amerika latin lainnya, tanpa dibuat-buat. Semuanya berjalan secara alami.
Dengan pengalamannya secara langsung ini, Stone pun menuding kritikan para oposisi terhadap presiden Chavez adalah palsu. Menurut oposisi, Chaves sedang mengarah kepada sebuah otoritarianisme, yang dibuktikan dengan pencekalan terhadap oposisi dan tekanan terhadap media swasta. Disamping itu, oposisi menuding Chaves terlalu sibuk mengobarkan perang salib global untuk melawan dominasi AS, namun kemudian melupakan persoalan di dalam negeri, khususnya korupsi yang merajalela.
Menurut Stone, Oposisi berupaya menutupi segala bentuk kemajuan dan perbaikan di bawah Chaves. "Orang-orang itu lupa bahwa dia telah memotong kemiskinan hingga satu setengah,” ujarnya. “orang-orang di Venezuela dapat menikmati akses pendidikan secara gratis, mereka benar-benar mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik tanpa mengeluarkan biaya, dan dimajukan kesejahteraannya,” kata Stone.
Akhirnya, film “south of the border” mendapatkan penghargaan Golden Lion dalam festival film Venice 2009, dan mendapatkan apresiasi luar biasa dari begitu banyak penonton, sutradara, dan pemerhati film.
*) Diolah dari berbagai sumber
Label:
amerika selatan,
chavez,
film,
oliver stone,
politik,
south of the border
Langganan:
Postingan (Atom)

