Tidak tepat sebenarnya kalau aku menyampaikan ini padamu kawanku. Kau sebenarnya sudah cukup tahu bahkan mengerti apa yang sudah menjadi jalan kendaraan kita ini. Namun menurutku berbahaya jika kau terlalu sering menoleh keluar dari jendela itu. Aku hanya ingin mengingatkan kau kawanku. Sudah cukup bagiku untuk mengendalikan kendaraan ini. Sekarang bagianmu. Hanya saja aku masih di dalam kendaraan ini. Aku ikut dalam kendalimu, bersama kawan-kawan lain. Maka itu aku tak bisa hanya diam dan pasrah saja ketika terlalu sering kau menoleh keluar dari jendela itu. Aku takut jika kita malah tak pernah sampai pada tujuan kita. Tujuan yang sudah memang diatur berlama-lama waktu. Berkeringat-keringat kita punya badan. Terseok-seok kita punya kaki. Bukankah kau tak menginginkan hal itu menjadi sia-sia kawanku?
Kau masih ingat kawanku? Saat bersama-sama kita merakit ini kendaraan. Kita sama-sama belum tahu apa yang harus dipasang pada kendaraan ini. Kita sama-sama belum tahu mau kemana arah kita setelah kendaraan ini jadi. Tapi setelah kendaraan itu jadi, semua komponen terpasang di tempatnya, walaupun tambal sulam pada dindingnya masih sangat terlihat, kita sama-sama memantapkan tekad arah perjalanan kita.
Kawan,
Kita sama-sama tahu dan melihat, banyak kendaraan lain yang berjalan berbarengan dengan kita. Dan kau tahu juga, bahkan banyak yang sudah berjalan lebih dulu. Tapi kita punya arah tujuan sendiri kawan. Kita tidak hanya mengekor mereka punya arah. Dengan kendaraan kita yang tambal sulam begini, kita mencoba mencari arah sendiri. Bukannya sok berdikari atau apalah namanya, tapi kau tahu kan, kita tak mau berjalan dimana berjuta orang berjalan juga. Konservatif itu namanya. Kita juga tak ingin bergantung pada kendaraan lain, mencoba mengikuti arah jejak jalannya. Kita punya arah sendiri kawan! Arah sendiri. Tapi jangan juga kita bilang kendaraan lain itu salah arah, jangan kawanku. Kita hanya punya arah sendiri. Setiap orang boleh menentukan nasibnya bukan? Begitu juga dengan kita.
Dalam perjalanan kita yang pelan tapi pasti itu, ternyata kita banyak menemukan kawan-kawan lain yang ingin menumpang pada kita punya kendaraan. Kendaraan yang serba tambal sulam begitu ternyata ada yang melirik juga. Aku tak tahu apakah mereka punya arah yang sama dengan kita, atau mereka hanya menumpang lalu berhenti pada persimpangan jalan di depan sana. Kita sama-sama tak tahu kawan. Yang jelas kita mencoba jadi orang baik kawan. Kita berikan itu kursi yang masih banyak kosong pada mereka-mereka ini. Tapi kalau ternyata arah mereka tidak sejalan dengan kita, kita biarkan mereka turun di persimpangan di depan sana. Karena kawanku, kita tidak bisa mengantar mereka ke arah tujuan mereka. Karena, terpaksa kuulang lagi kawan, kita punya arah sendiri.
Kawan,
Pada waktu itu kita berjalan malam hari. Aku yang mengemudi. Kau masih ingat? Gelap sekali. Itu lampu di kendaraan kita juga bukan lampu yang terbaik yang seharusnya dipasang. Jadilah kita beberapa kali harus berhenti memasang kembali itu lampu karena sering terlepas dari tempatnya. Tapi hanya sejenak kita berhenti kawan. Semangat kita mengalahkan soal lampu itu. Sampai akhirnya lampu itu terlepas dan tak bisa lagi dipasang. Untungnya Tuhan juga tak tinggal diam kawan. Dia kasih penerangan dari bulan yang bersinar indah di langit. Walaupun terlihat hanya samar-samar, kita lanjutkan perjalanan. Kau masih ingat kawan? Berat sekali waktu itu.
Suatu kali kendaraan kita tak bisa berjalan. Berhentilah kita di pinggir jalan, jalan yang penuh dengan semak belukar. Tapi kita merasa tidak tersesat kan? Kau mencoba mencari apa yang membuat kendaraan itu berhenti. Ternyata kita kehabisan itu bahan bakar. Kita terlalu semangat berjalan, mungkin. Jadinya kita berdiri disini, di pingir jalan yang penuh semak belukar. Tapi kita kan tidak takut kawan? Kita hanya berhenti sebentar, bukan tersesat. Kalau tersesat itu, mereka tidak tahu arah perjalanan mereka. Tapi kita tahu kawan. Kita tahu harus dibawa kemana ini kendaraan. Kita cuma kehabisan bahan bakar. Itulah saja. Sementara kita berhenti, ada kendaraan lain yang berhenti. Kita senang bukan kepalang. Ternyata kendaraan itu sama arah tujuannya dengan kita. Mereka coba bantu kita. Mereka beri itu sedikit bahan bakar mereka. Mereka coba kasih kita semangat lagi. “Mari kita lanjutkan perjalanan kita kawan” kata mereka itu hari. Akhirnya kita bisa melanjutkan perjalanan kita kawan. Kau masih ingat kawan? Kau dan aku tersenyum bersama.
Kawan,
Perjalanan kita ternyata masih sangat jauh. Aku mulai lelah. Mulai mengantuk. Seperti kata seorang yang sangat aku hormati, “dulu aku merasa tidak akan pernah tua.” Tapi ternyata itu kejadian yang alamiah. Kau dan aku tak bisa menghindari itu. Itu kodrat namanya. Harus ada yang menggantikan aku mengemudi. Tapi bukannya aku lalu turun dari ini kendaraan. Tidak kawanku. Kita belum sampai pada tujuan kita. Kenapa aku harus turun dari ini kendaraan? Aku hanya ingin ada yang menggantikan aku. Mengemudikan ini kendaraan sampai ke tujuan kita. Kau pun nantinya juga akan digantikan. Begitu terus. Sampai kita tiba di tujuan.
Ada beberapa kawan yang mengusulkan untuk mem-vermak ini kendaraan. Jadi lebih mentereng. Jadi lebih yahud. Enak dipandang di permukaan. Tapi aku menolak, kawan. Tak apalah kita naik ini kendaraan. Biarkan saja begini. Jelek-jelek begini, ini kendaraan kita dari awal. Banyak kenangan yang tergores pada ini kendaraan. Aku dan beberapa kawan lain juga sangat sayang pada ini kendaraan. Jangan lupakan sejarah! Itu pesan orangtua. Sejarah yang membentuk kita jadi seperti sekarang. Kemarin, hari ini, adalah esok, kawanku. Jangan kau merubah sejarah. Itu tidak baik menurutku. Tidak mendidik. Kau tidak ingin kan? Kendaraan yang sama-sama kita sayangi ini dionggokkan di tepi jalan semak belukar. Sendiri menunggu karat. Akhirnya mati dan tak berbekas. Aku perlu katakan ini lagi kawan, Jangan lupakan sejarah!
Kawan,
Matahari mulai terlihat. Jalanan itu mulai terlihat dengan jelas. Kau sudah menggantikan aku mengemudi. Lebih segar kulihat. Sedangkan aku? Aku mulai mengantuk kawan. Aku akan duduk di kursi penumpang saja. Tapi, seperti yang aku katakan diawal tadi. Jangan kau sering menoleh keluar jendela itu kawanku. Bisa bahaya. Kau harus yakin dengan arah kita. Bukankah yakinmu sama dengan aku punya yakin? Pastilah itu jika aku melihat pemikiranmu kawan. Aku tidak akan kemana-mana. Aku dibelakangmu. Mencoba menunjukkan arah jika kau bingung harus kemana. Tapi, aku yakin kau bisa sendiri kawan. Kau cukup punya potensi untuk itu.
Aku mulai lelah kawan.
Baiklah jika aku menyelesaikan omongan ngelantur ini disini saja. Jalankan ini kendaraan dengan baik. Sekali lagi tak bosan aku memperingatkan, jangan terlalu banyak kau menoleh keluar jendela itu. Itu didepan sudah terlihat jalan yang mulus. Mari arahkan kendaraan ini kesana.
PD Prananda
Minggu, September 28, 2008
Sabtu, September 20, 2008
NOT ONE LESS - Movie Reviews

Not One Less, Film Drama Komtemporer Bermutu
Sutradara Zhang Yimou tidak hanya dikenal dengan film drama atau silat periode kuno, misalnya saja film terbarunya "Hero", sesungguhnya tangannya telah membuahkan banyak film drama kontemporer bermutu.
Jika tidak demikian, bagaimana Zhang Yimou bisa memperoleh banyak penghargaan dan pengakuan dari berbagai festival film di seantero dunia atas kemampuan penyutradaraannya. Salah satu film drama kontemporernya adalah "Not One Less" yang diproduksi pada tahun 1999.
Kisahnya bermula ketika Guru Gao dari Sekolah Dasar Shuiquan yang terletak di sebuah desa Cina daratan terpencil yang jauh dari kota, harus pergi dari desa itu selama sebulan untuk merawat ibunya yang tengah sakit. Lantaran tidak ada pilihan lain, Guru Gao terpaksa menerima tawaran kepala desa itu untuk menerima seorang gadis remaja bernama Wei Minzhi yang baru berusia 13 tahun sebagai guru penggantinya.
Lantaran murid Guru Gao berkurang dari 40 orang hingga menjadi 28 orang, sehingga meminta Minzhi untuk menjaga jangan sampai ada satu murid drop out selama Guru Gao pergi. Jika Minzhi berhasil melaksanakan tugas itu, maka ia akan mendapat bonus tambahan 10 yuan.
Minzhi dengan setia dan telaten melaksanakan jadwal dan tugas yang diberikan Guru Gao dan menjaga para muridnya yang tidak jauh berbeda usia dengannya agar tetap belajar. Tampaknya Minzhi akan berhasil melaksanakan tugasnya sebagai guru pengganti dengan baik.

Namun tunggu dulu karena ternyata salah satu murid lelaki bernama Zhang Huike yang berusia 10 tahun punya ide lain. Lantaran keluarganya menghadapi masalah keuangan serius sehingga Huike ingin membantu keluarganya.
Oleh karena itu, Huike pun pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Tentu saja Minzhi jadi kelabakan ketika menyadari murid ternakalnya menghilang tanpa memberitahunya. Minzhi tidak mau kehilangan bonus tambahannya sehingga berusaha mencari Huike ke kota besar. Namun Minzhi tidak siap menghadapi keadaan yang dialaminya dalam perjalanannya ke kota besar.
Ternyata menjadi guru sekolah tidak menjamin Minzhi bisa melakukan perjalanannya dengan mulus. Ia syok ketika menyadari pengetahuannya tentang wilayah di luar desanya ternyata berbeda dengan kenyataannya. Misalnya harga tiket ke kota ternyata 20 yuan, bukan 3 yuan seperti perkiraannya.
Akibatnya ia harus berjalan kaki ke kota. Setiap rencana Minzhi untuk menemukan Huike selalu menemui kegagalan. Tidak heran jika Minzhi jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Hingga pada suatu saat ia menemukan dirinya diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi.
Apa yang terjadi setelah Minzhi diwawancarai oleh stasiun televisi ? Akankah Huike berhasil ditemukan Minzhi pada akhirnya ? Saksikan di RAMADHAN CINEMA, 25 September 2008
UNTUK PEMULA
LANGKAH-LANGKAH DALAM
MEMPERSIAPKAN FILM PENDEK
Oleh Robert Nikcson

CERITA DAN NASKAH :
1. Lama durasi film ditentukan oleh dana/budget yang dimiliki.
Ingat, film berdurasi 10 sampai 15 menit (dan pintar), biasanya lebih sukses daripada film yang berdurasi lebih lama dari itu. Jangan mencoba durasi yang lebih panjang jika kamu tidak mampu untuk menyelesaikan proyek itu.
2. Pilih cerita yang menjawab pertanyaan klasik film, “Apakah ini sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya?”
Bagaimanapun juga, anjuran yang paling baik ialah menulis apa yang kita tahu. Kita harus bisa berimajinasi dengan memasukkan karakter (tokoh), dan/atau situasi yang luar biasa dan memikat penonton.
3. Tanyakan pada dirimu sendiri, “Aku menginginkan penonton merasakan atau memikirkan apa setelah selesainya pemutaran film?”
Akhir dari sebuah film adalah kesan terakhir yang menyebabkan “kata mulut” dan makna film itu terlihat sukses di mata penonton. Haig Manoogian, seorang professor dari New York University; terkenal pada tahun 60an dan 70an, berpendapat bahwa sebuah film pendek harus mempunyai akhir yang berputar dan ujung yang terlepas [menggantung : pnrj*]. Dalam film pendek dari Marty Brest (sutradara dari Scent Of A Woman), karakter utama yang seorang fotografer, gagal memotret Patung Liberty yang sengaja dibakarnya. Fotografer itu kemudian pulang dengan perasaan depresi, dia melewati sebuah kantor agen perjalanan yang memasang poster Menara Eiffel di Paris. Fotografer itu berhenti dan kamera menangkap ekspresi wajahnya yang melihat poster itu lalu fade out. Penonton ditinggalkan dengan sebuah pertanyaan, apakah fotografer itu akan pergi ke Paris dan mencoba melakukan hal yang sama terhadap Menara Eiffel?
4. Sebelum memulai pra produksi, pastikan bahwa naskah yang kamu miliki adalah naskah yang terbaik.
Lakukan proses readings, tidak perlu dengan semua aktor, tapi ajaklah beberapa aktor untuk duduk dan membaca setiap bagian dari naskah. Kalau perlu carilah kawanmu yang bertugas menjadi pembaca naskah. Selama pembaca naskah melakukan tugasnya, dengarkan baik-baik naskah itu dan carilah beberapa masalah seperti : kata yang terlalu panjang, dialog yang terlalu menjelaskan [vulgar: penrj*], cerita yang berlebihan, tempo yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dan scene itu sendiri. Satu contoh : Manakah yang lebih baik dan menarik antara adegan Bill yang mengajak Mary ke Prom Night lalu kita potong pada gambar Bill dan Mary yang sedang berdansa di Prom Night; ATAU adegan Bill yang mengajak Mary ke Prom Night, Mary mengatakan ya, lalu kita potong pada adegan Prom Night? Biarkan naskahmu yang menjawab pertanyaan seperti itu. Letakkan perhatian pada penonton. Penonton tidak seharusnya melihat apa yang sudah mereka tahu, itu akan membuat penonton merasa bosan dan menganggap film itu terlalu lambat.
5. Jangan menulis apa yang nanti menjadi kekurangan (atau keraguan) pada filmmu.
Banyak naskah yang ditulis dengan scene yang terlalu panjang, terlalu banyak dialog, dan terlalu eksplisit. Jalan terbaik untuk menghemat uang adalah syuting filmmu dengan tidak terlalu banyak material. Ketika kamu menghentikan penulisan di saat yang paling esensial, kamu akan menghemat banyak dana produksi untuk mengusahakan kualitas terbaik dari shotmu.
6. Tulis apa yang akan dilihat oleh kamera.
Kamera tidak bisa melihat pemikiran atau perasaan yang internal, jadi jangan tulis itu dalam naskah. Selalu harus diingat, naskah itu digunakan oleh para kru untuk menyampaikan maksud dari sutradara. Salah satu contoh kasus : Dalam sebuah proyek film, seorang penulis naskah/sutradara itu sendiri menulis bahwa karakter utama menerima dan membuka “sebuah amplop special delivery”. Kru properti sudah menyiapkan enam amplop special delivery dari Kantor Pos. Pada hari pengambilan gambar, sutradara melihat hasil pekerjaan kru properti dan berkata bahwa amplop itu kurang “spesial”. Sutradara menginginkan amplop dari Federal Express. Hal ini menyebabkan dua masalah. Yang pertama ialah masalah perijinan, karena penggunaan amplop (atau apapun) dari Federal Express harus mempunyai ijin, dan hal itu akan menyebabkan terbuangnya banyak waktu produksi, karena kru lain akan menunggu kru properti untuk menyelesaikan tugasnya. Solusi dari masalah ini ialah menggunakan amplop dari Kantor Pos (karena tidak memerlukan ijin) dan memulai shooting setelah cukup banyak waktu yang terbuang. Masalah diatas terjadi karena penulis naskah/sutradara tidak menuliskan secara detil apa yang harus kamera lihat. Kru properti sudah melakukan tugasnya dengan benar. Mereka sudah membaca naskah dengan tepat. Oleh karena itu, para penulis naskah harus menulis segalanya dengan detil. Khususnya jika penulis naskah itu merangkap sebagai sutradara juga.
7. Selalu ingat bahwa naskah itu nantinya akan dibuat film.
Ini artinya bahwa tidak ada keajaiban dalam produksi yang naskahnya sedang-sedang saja (kurang kuat). Dalam membuat film yang baik, menulis naskah dengan benar adalah salah satu jalan untuk menghemat dana produksi. Seluruh film yang sedang-sedang saja atau bahkan buruk, berasal dari naskah yang sedang-sedang saja atau bahkan buruk. JANGAN MEMULAI PRODUKSI SAMPAI NASKAH ITU JADI DAN SANGAT SIAP.
PRA- PRODUKSI
1. Pra-Produksi dimulai pada saat naskah sudah sangat siap dan juga telah “dipoles” sehingga terasa layak atau pantas untuk diproduksi.
2. Langkah pertama yang harus dilakukan sutradara dalam pra-produksi adalah membuat storyboard dari screenplay (skenario) yang ada.
Sutradara harus membuat analisis dramatik dari proyek tersebut, alias menentukan shot kamera yang tepat. Kapan harusnya karakter diambil gambarnya sendirian (atau berpasangan) dalam sebuah shot yang rapi? Kapan harusnya kamera meng-cover shot yang lebar (wide shot), kapan harus memberi tekanan pada lingkungan sekitar (established shot), kapan harus memberi tekanan pada aktor (objective shot), kapan harus me-minimize lingkungan sekitar (subjective shot)? Ingat, rencana dasar dari pendekatan visual dan coverage kamera datang dari keperluan dramatis dari skenario dan tidak perlu menunggu sampai seluruh lokasi ditemukan. Pada dasarnya, ini adalah sebuah pembalikan. Jika kebutuhan coverage kamera sudah ditentukan, hal ini bisa menjadi bahan untuk menentukan lokasi mana yang paling bisa digunakan.
3. Memberikan perhatian yang penuh dan detil pada jadwal produksi adalah salah satu cara terbaik dalam menghemat dana produksi.
Setiap hari dalam proses pengambilan gambar (shooting day) akan selalu mengeluarkan uang lebih banyak dari tahap lain dalam produksi. Sebuah jadwal yang efisien akan akan menjadi dasar dalam pertimbangan-pertimbangan berikut ini : efisiensi penggunaan aktor; efisiensi penggunaan lokasi; sedikit kemungkinan perusahaan [rumah produksi: penrjh*] akan berpindah-pindah lokasi selama shooting day. Kita harus mengacu pada “shooting out” [menghabiskan shooting: pnrj*] lokasi atau aktor. Syarat itu berguna untuk mengarahkan proses pengambilan gambar seluruh scene yang mengacu pada sebuah lokasi atau aktor, hingga penggunaan lokasi dan aktor itu selesai dan tidak lagi diperlukan dalam produksi. Jika memungkinkan, cobalah untuk menghindari sering berpindah-pindahnya para kru antar lokasi yang berjauhan dalam satu waktu pengambilan gambar. Beberapa lokasi sebaiknya berada dalam satu waktu/hari atau berkelompok dan berdekatan, ini adalah proses dimana beberapa scene ataupun juga shot yang kecil dikelompokkan/digabungkan, jadi para kru dapat melakukan pengambilan gambar tanpa harus menaik-turunkan banyak peralatan dari kendaraan dan harus berpindah-pindah lokasi yang saling berjauhan. Sebuah proses yang dapat menghemat waktu, dua sampai empat jam, memberikan porsi waktu yang paling tepat dalam satu hari pengambilan gambar. Penjadwalan, seperti penulisan dan penulisan kembali (rewriting), lebih dari sekedar hanya menjadwalkan waktu dan menjadwalkan kembali (re-scheduling). Jadwal pertama adalah basis dari revisi-revisi jadwal berikutnya. Seluruh proses ini ditujukan untuk membuat pengambilan gambar-gambar terbaik dapat dimungkinkan tanpa menyia-nyiakan waktu ataupun tenaga para kru. Dan juga menghindari pengambilan gambar (shot) yang nantinya malah tidak diperlukan dalam film.
4. Pencarian dan menganalisis lokasi adalah salah satu aspek terpenting dalam pra-produksi.
Jika storyboard selesai dibuat, lokasi-lokasi perlu dipilih berdasarkan apa yang diperlukan kamera, bukan hanya berdasar pada indah atau menakjubkannya sebuah bangunan/lokasi, apalagi jika sebenarnya kamera (kita) tidak memerlukan hal-hal yang menakjubkan itu tadi. Saya telah melihat begitu banyak sutradara pemula yang berkeras mengeluarkan banyak uang untuk menyewa lokasi-lokasi yang mahal (bar, restoran, hotel, dll.) yang sebenarnya bisa lebih dimanfaatkan untuk keperluan produksi yang lain. Dalam salah satu kasus, seorang sutradara menghabiskan banyak uang dalam menyewa sebuah restoran yang berkelas untuk mengambil sedikit gambar (shot) dua orang pasangan romantis yang sedang makan malam. Gambar itu akhirnya akan terlihat sama saja jika adegan diatas diambil di ruangan manapun dengan menempatkan beberapa meja yang dihiasi dengan beberapa lilin dan bunga, ditambah dengan seseorang yang memakai tuxedo yang murah, lengkap dengan menu restoran dll. Ingat, aktor yang menyampaikan cerita, bukan lokasi! Carilah lokasi yang cukup murah bahkan gratis, dan nyaman untuk bekerja para kru dan aktor. Perhatikan, langit-langit (plafon) yang rendah sangat menyulitkan untuk penempatan lighting. Kalau filmmu berwarna, kamu harus mempertimbangkan segala macam warna dan bagaimana warna-warna itu bekerja secara psikologis dalam filmmu. Hal ini akan mengungkapkan kemungkinan mewarnai dinding lokasimu, dimana hal itu lebih murah daripada kamu menyewa mahal sebuah lokasi yang sudah di desain sebelumnya. Selalu pertimbangkan waktu atau berapa jam akses menuju lokasi. Perhitungkan waktu untuk Art Departemen menyiapkan set dan juga membongkar set setelah pengambilan gambar selesai. Francis Ford Coppola pernah berkata pada bibinya, dia ingin mengambil “enam menit scene” untuk filmnya “The Rain People” di rumah bibinya. Setelah hampir 12 jam proses pengambilan gambar, bibinya mendatangi Francis dan, seperti yang diduga, berkata : “Francis, kau katakan padaku ini hanya enam menit scene.” Moral dari cerita tersebut adalah kamu harus berterus terang pada pemilik lokasi tentang berapa lama kamu memerlukan waktu untuk prepare (menyiapkan), shooting, dan membongkar semua peralatan. Jangan lupa untuk selalu memeriksa suara-suara yang akan muncul selama jam-jam kamu menggunakan lokasi itu, berikan perhatian pada suara-suara lalu lintas, pesawat, sekolah, air conditioning (AC), dll. Sinar matahari langsung, dapat menyebabkan masalah pada continuity. Parkir dan akses peralatan yang mudah sangat penting. Check ketersediaan daya listrik, dan cari tahu dimana sekering dan circuit breaker (alat pemutus hubungan listrik) berada. Kebanyakan bangunan-bangunan kuno tidak mempunyai begitu banyak kapasitas listrik, dan mungkin hanya mampu mengatasi 1500 watts (kira-kira 15 amp) kebutuhan listrik. Jangan lupa untuk mempersiapkan sebuah ruangan untuk para aktor menunggu dan menggganti kostum, serta sebuah area untuk kebutuhan makanan para kru.
5. Tehnik menganalisis naskah dalam pra-produksi.
Semua film seharusnya mempunyai pra-produksi pada scene-per-scene, halaman-per-halaman, yang dilakukan oleh setiap kepala departemen dan sutradara serta para asisten sutradara, untuk memastikan setiap orang mengetahui apa yang diperlukan dalam setiap scene, seperti yang disebutkan dalam contoh kasus diatas (Bagian Cerita Dan Naskah : No. 6.) Kesalahan tersebut seharusnya bisa terselesaikan dalam menganalisis naskah, dimana segala aspek dari yang nantinya akan dilihat kamera diperhatikan.
6. Casting. Salah satu pekerjaan yang paling penting dari sutradara ialah meng-casting.
Saya sangat percaya pada yang namanya Active Casting. Hal ini maksudnya kita memperhatikan aktor pada saat bermain di pentas (panggung), dalam film, ataupun pada latihan-latihan. Semua sutradara bagus adalah seorang pengunjung teater yang setia. Banyak mahasiswa film yang merasa lebih baik membaca American Cinematographer [majalah film: pnrj*], daripada pergi untuk melihat permainan dan cara berbicara aktor. Melihat permainan aktor akan memberikan kualitas yang dinamis dan mempunyai kekuatan untuk menarik minat penonton. Saya selalu merasa seorang sutradara pemula cenderung memilih aktor yang dia suka untuk menjalin hubungan, daripada sebaliknya, memilih aktor yang akan membawa permainan (performance) yang menarik untuk filmmya. Jika aktor tersebut bermain sangat bagus, sutradara akan terlihat sebagai sutradara yang bagus. Jika aktor tidak bisa mengkreasikan “kehidupan di depan kamera”, maka sang sutradara yang akan disalahkan, tidak perduli walaupun gambar yang dihasilkan terlihat bagus. Dalam pikiran saya, mengkreasikan sebuah kehidupan di depan kamera itulah tugas yang paling penting dari seorang sutradara, bukan konstruksi gambar (shot.) Sebuah film dengan performa menarik, akan selalu mendapat respon positif. Sebuah shot yang bagus dan menarik dalam sebuah film, tanpa performa yang “terpercaya” adalah film yang buruk. Jadi, proses casting (memilih pemain) boleh jadi hal yang paling penting yang bisa sutradara lakukan setelah proses memilih atau menulis naskah.
7. Panduan teknis selama pra-produksi.
Setelah lokasi dipilih, sangat diperlukan untuk mengumpulkan sutradara, DOP, Sound Person, Key Grip, Gaffer, Art Director, serta Location Manager dan mengunjungi setiap lokasi sambil mendiskusikan seluruh aspek fisik produksi serta membicarakan segala hal yang dapat menimbulkan masalah.
8. Latihan para pemain.
Ada banyak sekali pendekatan latihan yang bisa dilakukan dan para aktor itu pun juga mempunyai metode yang berbeda satu sama lain. Pada hakekatnya, pendekatan latihan haruslah menjadi kebiasaan dalam setiap proyek dan pemilihan pemain.
9. Banyak istirahat sebelum shooting.
Shooting film memerlukan waktu yang panjang dan lama. Penting untuk memperhatikan dengan hati-hati jadwalmu, dan pastikan kesehatanmu pada kondisi yang paling baik. Segala macam hal yang menghalangi pikiran yang jernih tidak mendapat tempat dalam pembuatan film. Terlalu rumit dan bahaya jika kamu tidak berada dalam kondisi yang paling baik.
10. Hukum Murphy.
Apa yang terlihat akan berjalan salah, akan berjalan dengan salah. Jika segala sesuatu dipersiapkan dengan hati-hati, kamu akan memiliki produksi yang bagus. Persiapan yang kurang adalah anti-tesis dari pembuatan film itu sendiri. Menurut pemikiran saya, film dibuat pada saat pra-produksi sedangkan proses produksi hanyalah proses dimana kita sekedar mengambil gambar. Membuat film seperti membangun rumah. Kita tidak akan membangun apapun tanpa persiapan yang matang. Film juga sama. Naskah yang bagus, aktor yang bagus, pra-produksi yang bagus, akan menghasilkan film yang bagus.
Robert Nickson
Profesor Nickson adalah seorang produser film independent dan juga bagian dari Orenda Films, sebuah perusahaan pembuat film di New York dan sudah menyelesaikan empat feature film sejak tahun 1992.
Karya-karyanya antara lain : No Way Home (1995), dibintangi oleh Tim Roth, Deborah Unger dan James Russo. Film lainnya termasuk : The Search For One-Eye Jimmy, dibintangi oleh Nicholas dan John Turturro, Steve Duscemi, Jennifer Beals, dan Samuel L. Jackson; Auf Wiedersehen America (Cannes festival Director’s Fortnight Selection, 1995); dan Pen Pals, diproduksi untuk Tokuma Studios Jepang.
Sebelum itu, dia bekerja sebagai Production Controller dan Production Manager diantara major studio dan independent productions. Dipercaya pada beberapa produksi teater seperti : Jungle Fever, Mo’ Better Blues, Iron and Silk, Bloodhounds of Broadway, Fathers and Sons, Do the
Right Thing, Spike of Bensonhurst, Street Smart, The Beat, dan juga In Ours Hand, sebuah film dokumenter panjang, pemenang dari The Golden Ducat, film terbaik, Manheim Festival.
Profesor Nickson mengajar film production pada New York University’s Graduate Film School sejak tahun 1985. Dia juga mengajar di beberapa program pengajaran film di Amerika Serikat, Eropa dan China. Profesor Nickson menerima gelar B.A. dari Dartmouth College dan gelar M.F.A. dalam film dari N.Y.U.’s Graduate Film Program.
Sumber: www.howtomakeyourmovie.com
*Pnrj : Penerjemah.
Diterjemahkan oleh:
PD PRANANDA
Kasetbekas Pictures
MEMPERSIAPKAN FILM PENDEK
Oleh Robert Nikcson

CERITA DAN NASKAH :
1. Lama durasi film ditentukan oleh dana/budget yang dimiliki.
Ingat, film berdurasi 10 sampai 15 menit (dan pintar), biasanya lebih sukses daripada film yang berdurasi lebih lama dari itu. Jangan mencoba durasi yang lebih panjang jika kamu tidak mampu untuk menyelesaikan proyek itu.
2. Pilih cerita yang menjawab pertanyaan klasik film, “Apakah ini sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya?”
Bagaimanapun juga, anjuran yang paling baik ialah menulis apa yang kita tahu. Kita harus bisa berimajinasi dengan memasukkan karakter (tokoh), dan/atau situasi yang luar biasa dan memikat penonton.
3. Tanyakan pada dirimu sendiri, “Aku menginginkan penonton merasakan atau memikirkan apa setelah selesainya pemutaran film?”
Akhir dari sebuah film adalah kesan terakhir yang menyebabkan “kata mulut” dan makna film itu terlihat sukses di mata penonton. Haig Manoogian, seorang professor dari New York University; terkenal pada tahun 60an dan 70an, berpendapat bahwa sebuah film pendek harus mempunyai akhir yang berputar dan ujung yang terlepas [menggantung : pnrj*]. Dalam film pendek dari Marty Brest (sutradara dari Scent Of A Woman), karakter utama yang seorang fotografer, gagal memotret Patung Liberty yang sengaja dibakarnya. Fotografer itu kemudian pulang dengan perasaan depresi, dia melewati sebuah kantor agen perjalanan yang memasang poster Menara Eiffel di Paris. Fotografer itu berhenti dan kamera menangkap ekspresi wajahnya yang melihat poster itu lalu fade out. Penonton ditinggalkan dengan sebuah pertanyaan, apakah fotografer itu akan pergi ke Paris dan mencoba melakukan hal yang sama terhadap Menara Eiffel?
4. Sebelum memulai pra produksi, pastikan bahwa naskah yang kamu miliki adalah naskah yang terbaik.
Lakukan proses readings, tidak perlu dengan semua aktor, tapi ajaklah beberapa aktor untuk duduk dan membaca setiap bagian dari naskah. Kalau perlu carilah kawanmu yang bertugas menjadi pembaca naskah. Selama pembaca naskah melakukan tugasnya, dengarkan baik-baik naskah itu dan carilah beberapa masalah seperti : kata yang terlalu panjang, dialog yang terlalu menjelaskan [vulgar: penrj*], cerita yang berlebihan, tempo yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dan scene itu sendiri. Satu contoh : Manakah yang lebih baik dan menarik antara adegan Bill yang mengajak Mary ke Prom Night lalu kita potong pada gambar Bill dan Mary yang sedang berdansa di Prom Night; ATAU adegan Bill yang mengajak Mary ke Prom Night, Mary mengatakan ya, lalu kita potong pada adegan Prom Night? Biarkan naskahmu yang menjawab pertanyaan seperti itu. Letakkan perhatian pada penonton. Penonton tidak seharusnya melihat apa yang sudah mereka tahu, itu akan membuat penonton merasa bosan dan menganggap film itu terlalu lambat.
5. Jangan menulis apa yang nanti menjadi kekurangan (atau keraguan) pada filmmu.
Banyak naskah yang ditulis dengan scene yang terlalu panjang, terlalu banyak dialog, dan terlalu eksplisit. Jalan terbaik untuk menghemat uang adalah syuting filmmu dengan tidak terlalu banyak material. Ketika kamu menghentikan penulisan di saat yang paling esensial, kamu akan menghemat banyak dana produksi untuk mengusahakan kualitas terbaik dari shotmu.
6. Tulis apa yang akan dilihat oleh kamera.
Kamera tidak bisa melihat pemikiran atau perasaan yang internal, jadi jangan tulis itu dalam naskah. Selalu harus diingat, naskah itu digunakan oleh para kru untuk menyampaikan maksud dari sutradara. Salah satu contoh kasus : Dalam sebuah proyek film, seorang penulis naskah/sutradara itu sendiri menulis bahwa karakter utama menerima dan membuka “sebuah amplop special delivery”. Kru properti sudah menyiapkan enam amplop special delivery dari Kantor Pos. Pada hari pengambilan gambar, sutradara melihat hasil pekerjaan kru properti dan berkata bahwa amplop itu kurang “spesial”. Sutradara menginginkan amplop dari Federal Express. Hal ini menyebabkan dua masalah. Yang pertama ialah masalah perijinan, karena penggunaan amplop (atau apapun) dari Federal Express harus mempunyai ijin, dan hal itu akan menyebabkan terbuangnya banyak waktu produksi, karena kru lain akan menunggu kru properti untuk menyelesaikan tugasnya. Solusi dari masalah ini ialah menggunakan amplop dari Kantor Pos (karena tidak memerlukan ijin) dan memulai shooting setelah cukup banyak waktu yang terbuang. Masalah diatas terjadi karena penulis naskah/sutradara tidak menuliskan secara detil apa yang harus kamera lihat. Kru properti sudah melakukan tugasnya dengan benar. Mereka sudah membaca naskah dengan tepat. Oleh karena itu, para penulis naskah harus menulis segalanya dengan detil. Khususnya jika penulis naskah itu merangkap sebagai sutradara juga.
7. Selalu ingat bahwa naskah itu nantinya akan dibuat film.
Ini artinya bahwa tidak ada keajaiban dalam produksi yang naskahnya sedang-sedang saja (kurang kuat). Dalam membuat film yang baik, menulis naskah dengan benar adalah salah satu jalan untuk menghemat dana produksi. Seluruh film yang sedang-sedang saja atau bahkan buruk, berasal dari naskah yang sedang-sedang saja atau bahkan buruk. JANGAN MEMULAI PRODUKSI SAMPAI NASKAH ITU JADI DAN SANGAT SIAP.
PRA- PRODUKSI
1. Pra-Produksi dimulai pada saat naskah sudah sangat siap dan juga telah “dipoles” sehingga terasa layak atau pantas untuk diproduksi.
2. Langkah pertama yang harus dilakukan sutradara dalam pra-produksi adalah membuat storyboard dari screenplay (skenario) yang ada.
Sutradara harus membuat analisis dramatik dari proyek tersebut, alias menentukan shot kamera yang tepat. Kapan harusnya karakter diambil gambarnya sendirian (atau berpasangan) dalam sebuah shot yang rapi? Kapan harusnya kamera meng-cover shot yang lebar (wide shot), kapan harus memberi tekanan pada lingkungan sekitar (established shot), kapan harus memberi tekanan pada aktor (objective shot), kapan harus me-minimize lingkungan sekitar (subjective shot)? Ingat, rencana dasar dari pendekatan visual dan coverage kamera datang dari keperluan dramatis dari skenario dan tidak perlu menunggu sampai seluruh lokasi ditemukan. Pada dasarnya, ini adalah sebuah pembalikan. Jika kebutuhan coverage kamera sudah ditentukan, hal ini bisa menjadi bahan untuk menentukan lokasi mana yang paling bisa digunakan.
3. Memberikan perhatian yang penuh dan detil pada jadwal produksi adalah salah satu cara terbaik dalam menghemat dana produksi.
Setiap hari dalam proses pengambilan gambar (shooting day) akan selalu mengeluarkan uang lebih banyak dari tahap lain dalam produksi. Sebuah jadwal yang efisien akan akan menjadi dasar dalam pertimbangan-pertimbangan berikut ini : efisiensi penggunaan aktor; efisiensi penggunaan lokasi; sedikit kemungkinan perusahaan [rumah produksi: penrjh*] akan berpindah-pindah lokasi selama shooting day. Kita harus mengacu pada “shooting out” [menghabiskan shooting: pnrj*] lokasi atau aktor. Syarat itu berguna untuk mengarahkan proses pengambilan gambar seluruh scene yang mengacu pada sebuah lokasi atau aktor, hingga penggunaan lokasi dan aktor itu selesai dan tidak lagi diperlukan dalam produksi. Jika memungkinkan, cobalah untuk menghindari sering berpindah-pindahnya para kru antar lokasi yang berjauhan dalam satu waktu pengambilan gambar. Beberapa lokasi sebaiknya berada dalam satu waktu/hari atau berkelompok dan berdekatan, ini adalah proses dimana beberapa scene ataupun juga shot yang kecil dikelompokkan/digabungkan, jadi para kru dapat melakukan pengambilan gambar tanpa harus menaik-turunkan banyak peralatan dari kendaraan dan harus berpindah-pindah lokasi yang saling berjauhan. Sebuah proses yang dapat menghemat waktu, dua sampai empat jam, memberikan porsi waktu yang paling tepat dalam satu hari pengambilan gambar. Penjadwalan, seperti penulisan dan penulisan kembali (rewriting), lebih dari sekedar hanya menjadwalkan waktu dan menjadwalkan kembali (re-scheduling). Jadwal pertama adalah basis dari revisi-revisi jadwal berikutnya. Seluruh proses ini ditujukan untuk membuat pengambilan gambar-gambar terbaik dapat dimungkinkan tanpa menyia-nyiakan waktu ataupun tenaga para kru. Dan juga menghindari pengambilan gambar (shot) yang nantinya malah tidak diperlukan dalam film.
4. Pencarian dan menganalisis lokasi adalah salah satu aspek terpenting dalam pra-produksi.
Jika storyboard selesai dibuat, lokasi-lokasi perlu dipilih berdasarkan apa yang diperlukan kamera, bukan hanya berdasar pada indah atau menakjubkannya sebuah bangunan/lokasi, apalagi jika sebenarnya kamera (kita) tidak memerlukan hal-hal yang menakjubkan itu tadi. Saya telah melihat begitu banyak sutradara pemula yang berkeras mengeluarkan banyak uang untuk menyewa lokasi-lokasi yang mahal (bar, restoran, hotel, dll.) yang sebenarnya bisa lebih dimanfaatkan untuk keperluan produksi yang lain. Dalam salah satu kasus, seorang sutradara menghabiskan banyak uang dalam menyewa sebuah restoran yang berkelas untuk mengambil sedikit gambar (shot) dua orang pasangan romantis yang sedang makan malam. Gambar itu akhirnya akan terlihat sama saja jika adegan diatas diambil di ruangan manapun dengan menempatkan beberapa meja yang dihiasi dengan beberapa lilin dan bunga, ditambah dengan seseorang yang memakai tuxedo yang murah, lengkap dengan menu restoran dll. Ingat, aktor yang menyampaikan cerita, bukan lokasi! Carilah lokasi yang cukup murah bahkan gratis, dan nyaman untuk bekerja para kru dan aktor. Perhatikan, langit-langit (plafon) yang rendah sangat menyulitkan untuk penempatan lighting. Kalau filmmu berwarna, kamu harus mempertimbangkan segala macam warna dan bagaimana warna-warna itu bekerja secara psikologis dalam filmmu. Hal ini akan mengungkapkan kemungkinan mewarnai dinding lokasimu, dimana hal itu lebih murah daripada kamu menyewa mahal sebuah lokasi yang sudah di desain sebelumnya. Selalu pertimbangkan waktu atau berapa jam akses menuju lokasi. Perhitungkan waktu untuk Art Departemen menyiapkan set dan juga membongkar set setelah pengambilan gambar selesai. Francis Ford Coppola pernah berkata pada bibinya, dia ingin mengambil “enam menit scene” untuk filmnya “The Rain People” di rumah bibinya. Setelah hampir 12 jam proses pengambilan gambar, bibinya mendatangi Francis dan, seperti yang diduga, berkata : “Francis, kau katakan padaku ini hanya enam menit scene.” Moral dari cerita tersebut adalah kamu harus berterus terang pada pemilik lokasi tentang berapa lama kamu memerlukan waktu untuk prepare (menyiapkan), shooting, dan membongkar semua peralatan. Jangan lupa untuk selalu memeriksa suara-suara yang akan muncul selama jam-jam kamu menggunakan lokasi itu, berikan perhatian pada suara-suara lalu lintas, pesawat, sekolah, air conditioning (AC), dll. Sinar matahari langsung, dapat menyebabkan masalah pada continuity. Parkir dan akses peralatan yang mudah sangat penting. Check ketersediaan daya listrik, dan cari tahu dimana sekering dan circuit breaker (alat pemutus hubungan listrik) berada. Kebanyakan bangunan-bangunan kuno tidak mempunyai begitu banyak kapasitas listrik, dan mungkin hanya mampu mengatasi 1500 watts (kira-kira 15 amp) kebutuhan listrik. Jangan lupa untuk mempersiapkan sebuah ruangan untuk para aktor menunggu dan menggganti kostum, serta sebuah area untuk kebutuhan makanan para kru.
5. Tehnik menganalisis naskah dalam pra-produksi.
Semua film seharusnya mempunyai pra-produksi pada scene-per-scene, halaman-per-halaman, yang dilakukan oleh setiap kepala departemen dan sutradara serta para asisten sutradara, untuk memastikan setiap orang mengetahui apa yang diperlukan dalam setiap scene, seperti yang disebutkan dalam contoh kasus diatas (Bagian Cerita Dan Naskah : No. 6.) Kesalahan tersebut seharusnya bisa terselesaikan dalam menganalisis naskah, dimana segala aspek dari yang nantinya akan dilihat kamera diperhatikan.
6. Casting. Salah satu pekerjaan yang paling penting dari sutradara ialah meng-casting.
Saya sangat percaya pada yang namanya Active Casting. Hal ini maksudnya kita memperhatikan aktor pada saat bermain di pentas (panggung), dalam film, ataupun pada latihan-latihan. Semua sutradara bagus adalah seorang pengunjung teater yang setia. Banyak mahasiswa film yang merasa lebih baik membaca American Cinematographer [majalah film: pnrj*], daripada pergi untuk melihat permainan dan cara berbicara aktor. Melihat permainan aktor akan memberikan kualitas yang dinamis dan mempunyai kekuatan untuk menarik minat penonton. Saya selalu merasa seorang sutradara pemula cenderung memilih aktor yang dia suka untuk menjalin hubungan, daripada sebaliknya, memilih aktor yang akan membawa permainan (performance) yang menarik untuk filmmya. Jika aktor tersebut bermain sangat bagus, sutradara akan terlihat sebagai sutradara yang bagus. Jika aktor tidak bisa mengkreasikan “kehidupan di depan kamera”, maka sang sutradara yang akan disalahkan, tidak perduli walaupun gambar yang dihasilkan terlihat bagus. Dalam pikiran saya, mengkreasikan sebuah kehidupan di depan kamera itulah tugas yang paling penting dari seorang sutradara, bukan konstruksi gambar (shot.) Sebuah film dengan performa menarik, akan selalu mendapat respon positif. Sebuah shot yang bagus dan menarik dalam sebuah film, tanpa performa yang “terpercaya” adalah film yang buruk. Jadi, proses casting (memilih pemain) boleh jadi hal yang paling penting yang bisa sutradara lakukan setelah proses memilih atau menulis naskah.
7. Panduan teknis selama pra-produksi.
Setelah lokasi dipilih, sangat diperlukan untuk mengumpulkan sutradara, DOP, Sound Person, Key Grip, Gaffer, Art Director, serta Location Manager dan mengunjungi setiap lokasi sambil mendiskusikan seluruh aspek fisik produksi serta membicarakan segala hal yang dapat menimbulkan masalah.
8. Latihan para pemain.
Ada banyak sekali pendekatan latihan yang bisa dilakukan dan para aktor itu pun juga mempunyai metode yang berbeda satu sama lain. Pada hakekatnya, pendekatan latihan haruslah menjadi kebiasaan dalam setiap proyek dan pemilihan pemain.
9. Banyak istirahat sebelum shooting.
Shooting film memerlukan waktu yang panjang dan lama. Penting untuk memperhatikan dengan hati-hati jadwalmu, dan pastikan kesehatanmu pada kondisi yang paling baik. Segala macam hal yang menghalangi pikiran yang jernih tidak mendapat tempat dalam pembuatan film. Terlalu rumit dan bahaya jika kamu tidak berada dalam kondisi yang paling baik.
10. Hukum Murphy.
Apa yang terlihat akan berjalan salah, akan berjalan dengan salah. Jika segala sesuatu dipersiapkan dengan hati-hati, kamu akan memiliki produksi yang bagus. Persiapan yang kurang adalah anti-tesis dari pembuatan film itu sendiri. Menurut pemikiran saya, film dibuat pada saat pra-produksi sedangkan proses produksi hanyalah proses dimana kita sekedar mengambil gambar. Membuat film seperti membangun rumah. Kita tidak akan membangun apapun tanpa persiapan yang matang. Film juga sama. Naskah yang bagus, aktor yang bagus, pra-produksi yang bagus, akan menghasilkan film yang bagus.
Robert Nickson
Profesor Nickson adalah seorang produser film independent dan juga bagian dari Orenda Films, sebuah perusahaan pembuat film di New York dan sudah menyelesaikan empat feature film sejak tahun 1992.
Karya-karyanya antara lain : No Way Home (1995), dibintangi oleh Tim Roth, Deborah Unger dan James Russo. Film lainnya termasuk : The Search For One-Eye Jimmy, dibintangi oleh Nicholas dan John Turturro, Steve Duscemi, Jennifer Beals, dan Samuel L. Jackson; Auf Wiedersehen America (Cannes festival Director’s Fortnight Selection, 1995); dan Pen Pals, diproduksi untuk Tokuma Studios Jepang.
Sebelum itu, dia bekerja sebagai Production Controller dan Production Manager diantara major studio dan independent productions. Dipercaya pada beberapa produksi teater seperti : Jungle Fever, Mo’ Better Blues, Iron and Silk, Bloodhounds of Broadway, Fathers and Sons, Do the
Right Thing, Spike of Bensonhurst, Street Smart, The Beat, dan juga In Ours Hand, sebuah film dokumenter panjang, pemenang dari The Golden Ducat, film terbaik, Manheim Festival.
Profesor Nickson mengajar film production pada New York University’s Graduate Film School sejak tahun 1985. Dia juga mengajar di beberapa program pengajaran film di Amerika Serikat, Eropa dan China. Profesor Nickson menerima gelar B.A. dari Dartmouth College dan gelar M.F.A. dalam film dari N.Y.U.’s Graduate Film Program.
Sumber: www.howtomakeyourmovie.com
*Pnrj : Penerjemah.
Diterjemahkan oleh:
PD PRANANDA
Kasetbekas Pictures
Langganan:
Postingan (Atom)

